Jauh didalam tanah, tersembunyi jauh dari cahaya langit, terbentang sebuah ruangan megah seluas lautan. Pilar-pilar batu hitam menopang langit-langit berliku seperti akar purba. Di tengah ruangan, sebuah singgasana megah terukir dari batu obsidian berdiri angkuh. Di atasnya, seorang wanita berparas elok, berjubah hitam kelam, duduk bagaikan ratu dari malam abadi.

Di samping singgasana, bola kristal di atas meja kecil setinggi pinggang manusia bersinar redup, seolah menahan seluruh rahasia dunia di dalamnya. Permukaannya yang berkilau memperlihatkan bayangan dua sosok manusia, Kael dan Narendra yang sedang berbicara dengan nada serius tentang para penduduk Surya. Tak lama, tampilan bola kristal berubah, tampak sosok Karim, berlari dengan napas terengah, menghindari kejaran dari orang-orang yang berusaha menangkapnya.

Empat wanita lain berdiri di sisi sang pemimpin, jubah hitam mereka melambai ringan, mata mereka penuh tumpuan pada adegan di dalam kristal.

Di bawah singgasana, hamparan ribuan prajurit berjubah hitam membanjiri lantai batu. Mereka berdiri tegak, membisu seperti arca, wajah tersembunyi di balik topeng tanpa nama. Suasana terasa berat, seolah setiap hembusan udara pun ditelan keheningan yang mencekam.

Di depan barisan itu, seorang wanita berlutut memberi hormat, seolah tidak berani mengangkat badannya tanpa perintah.

Suara dingin namun indah, bagai desir angin di puncak salju, meluncur dari singgasana.

"Tiga fragmen senjata iblis telah kita genggam," ujar sang pemimpin, matanya bersinar redup bagaikan bintang jatuh. "Sisa dua lagi. Kita harus mendapatkannya sebelum Lynx kembali ke dunia ini."

Ia menurunkan tangannya perlahan, jemarinya yang ramping namun berbahaya mengusap permukaan bola kristal, membuat kilauan di dalamnya berguncang halus.

"Tanpa kekuatan senjata itu," lanjutnya, suara mengalir bak pisau menari di udara, "rencana untuk merebut tubuh istimewanya tidak akan pernah terwujud."

Keempat wanita di sisinya menundukkan kepala dalam hormat, sementara para prajurit tetap membeku, menanti titah berikutnya yang akan menggetarkan dunia.

"Nyonya, apakah kau telah menemukan di mana letak fragmen terakhir?" tanya salah satu dari mereka, suaranya lembut namun penuh harap.

Wanita di singgasana melirik sekilas, matanya bagai genangan malam yang dalam. "Aku belum menemukan lokasinya," jawabnya tenang, sembari mengangkat tongkat hitam bertatahkan batu kelam. "Namun, setelah kita merebut fragmen keempat, fragmen terakhir pun akan segera menyusul ke tangan kita."

Suara tongkat menghentak lantai batu keras, bergema panjang menembus ruangan bawah tanah. Dalam sekejap, tubuh sang Nyonya menghilang dalam pusaran kabut hitam yang berputar pelan, meninggalkan aroma dingin yang menusuk tulang.

Keempat wanita itu bertukar pandang, semangat berkobar dalam mata mereka.

"Kita harus memastikan fragmen senjata iblis keempat ini segera kita rebut," ujar salah satu dari mereka dengan sorot mata menyala. "Begitu Nyonya menguasai tubuh Lynx, dunia ini akan bersujud di kaki kita, dan kita akan kembali ke dunia asal bersama pasukan yang tak tertandingi."

"Benar," sahut wanita lainnya, senyumnya tipis seperti bilah pedang. "Penantian kita ratusan tahun di pulau terkutuk itu akhirnya berbuah hasil. Tetapi aku tidak menduga jika Monrest tua itu berhasil dikalahkan pemuda yang sebelumnya kita anggap remeh."

"Aku tidak peduli siapa yang menang, terpenting adalah kita bisa keluar dari pulau terkutuk itu. Aku sudah bosan meminum darah para gadis di pulau yang tidak memiliki energi spiritual, hanya untuk membuat kita terlihat kembali menjadi seperti gadis." Kata wanita satunya lagi.

"Aku ingin melihat wajah pemuda itu," desis seorang lagi, bibirnya melengkung dalam tawa dingin. "Bagaimana reaksinya saat ia menyadari orang yang diselamatkannya justru adalah musuh yang akan menghancurkan segala yang ia miliki."

Tawa kecil yang menggema lirih mengisi udara, seolah iblis-iblis kecil menari di sekitar mereka.

Mendadak, salah satu dari mereka melirik tajam ke arah wanita muda yang masih bersujud di bawah tangga singgasana.

"Kau... ke mari!" panggilnya.

Wanita muda itu merangkak mendekat, gerakannya terlihat gesit namun tatapan matanya terlihat kosong.

Saat jarak mereka cukup dekat, si wanita bergaun hitam menjulurkan tangan. Kuku panjang berwarna hitam menggores pipi wanita muda itu, meninggalkan jejak merah yang segera meneteskan darah segar. Dengan gerakan lambat namun kejam, ia mengelus luka itu lalu menjilat darah dari kukunya, matanya menyipit menikmati rasanya.

"Darah perawan memang lezat," gumamnya, suaranya bak bisikan ular di telinga. "Sekian lama kau bersama Lynx, pemuda tampan dan kuat itu, namun tetap menjaga kesucianmu... sungguh disayangkan."

Ia mendesis rendah, seolah mengecap kelezatan yang belum puas.

"Pergilah! Kehadiranmu hanya membuatku semakin lapar," bentaknya tiba-tiba.

Tetap tanpa ekspresi, wanita tersebut mundur dan bergabung dengan para prajurit lainnya yang memiliki ekspresi sama dengannya, seolah mereka tidak memilki jiwa.

Jika Narendra dan yang lainnya mengetahui, mereka akan gembira sekaligus sedih, karena suku Surya yang sedang mereka cari, ternyata berada ditempat ini dalam keadaan menyedihkan seperti tubuh tanpa jiwa. Terutama Arkha, yang mulai memiliki benih perasaan terhadap seorang wanita dari sukunya, yang selalu bersamanya saat di planet Surya, Rira.

***

Melihat serangan ganas yang datang dan dapat melukai Zeythra, Largan Vox, makhluk humanoid petarung peringkat tiga, tidak berdiam diri. Dia segera maju dengan cepat dan melawan energi pedang dengan meriam tangan ganda yang tertanam di lengannya, menembakkan proyektil magnetik bertekanan tinggi.

Suara ledakan terdengar keras, cahaya berpendar dari titik benturan, dan Leena terlempar ke belakang karena efek tumbukan yang luar biasa kuat.

Namun Grakkon sudah kehilangan kesabaran. Sorakan penonton membuat amarahnya membuncah. Ia meraung keras, lalu melompat masuk, mendekati Leena dari belakang. Tangan raksasanya menangkap tubuh Leena seperti boneka kain.

"RAHHHHH!!" Grakkon berteriak, mengangkat tubuh Leena tinggi-tinggi, bersiap membantingnya ke tanah dengan kekuatan yang cukup untuk menghancurkan batuan padat.

Leena tak lagi mampu bergerak. Napasnya berat, tubuhnya penuh luka, energi spiritualnya hampir habis. Ia hanya bisa menatap langit-langit arena yang jauh di atas sambil menahan rasa sakit yang membakar.

Para penonton bersorak, yakin bahwa kali ini Leena akan binasa. Tak ada yang bisa menghentikan Grakkon dalam keadaan seperti itu.

Namun tepat sebelum tubuh Leena menghantam lantai arena, terdengar suara dentuman logam keras dari arah sisi arena.

Grakkon mendadak terpental ke belakang, tubuh besarnya menghantam dinding arena hingga retak. Debu mengepul tinggi.

Sosok misterius berdiri di hadapan Leena.

Sosok misterius itu menggunakan pakaian tempur hitam mengkilap seperti baja membalut seluruh tubuhnya. Helm canggih menutupi wajahnya, dengan visor yang terlihat menyala dingin. Sosok itu berdiri tegap di antara Leena dan lawan-lawannya, tanpa berkata sepatah kata pun.

Arena mendadak hening. Penonton terdiam, tidak mengerti siapa sosok itu.

Didalam ruangan, mata Sara berbinar, "Pimpinan. Anda memang pintar. Akhirnya Lynx keluar dan muncul di arena menggunakan pakaian tersebut."

"Betul pimpinan, setelah mengalahkannya, kita bisa mempelajari teknologi pakaiannya untuk memperkuat pasukan kita. Aku yakin, pasukan kita nantinya pasti akan menjadi tidak terkalahkan." Kata Eliza menambahkan.

Pimpinan tersebut hanya diam dan memandang ke arah arena dengan tatapan penasaran, sekuat apa pakaian yang digunakan pemuda tersebut.

Leena yang terbaring lemah perlahan membuka matanya, dan melihat siluet gelap itu berdiri melindunginya.

"…Lynx?" bisiknya nyaris tak terdengar.

Grakkon bangkit dari reruntuhan dengan raungan membelah udara. Tubuhnya yang setinggi hampir empat meter mengguncang lantai setiap kali ia melangkah. Matanya menyala merah pekat, dan sabuk bio-massanya mulai berdenyut, mengeluarkan semburat cahaya kehijauan dari sela-sela piringan logam yang menempel di tubuhnya.

"GRAAKKKOOOOONNNNN!!" Dengan marah, Grakkon berlari menyerang Lynx.

Tanpa aba-aba, empat sosok lain langsung melompat ikut menyerang. Mereka sangat tahu kekuatan Grakkon. Orang yang mampu melemparkan Grakkon seperti itu, tidak bisa dianggap remeh dan mereka juga sudah mendapatkan perintah untuk melumpuhkan pemuda itu secepatnya.

Zeythra meluncur seperti kilat, tonfa plasma-nya menyala biru. Largan Vox mengangkat kedua lengannya yang berbentuk meriam. Vaelzorr melompat dari ketinggian, rudal-rudal kecil mencuat dari bahunya, dan Rhaegor berjalan perlahan namun menggetarkan lantai tiap langkahnya.

Lynx berdiri diam di tengah arena, tubuhnya tenang, matanya menatap kosong seolah lawan-lawannya bukan ancaman berarti.

"Serang bersama!" bentak Vaelzorr.

Kelima peringkat teratas langsung menyerbu.

Zeythra tiba lebih dulu, tonfa menyambar udara ke arah kepala Lynx. Namun Lynx hanya memiringkan kepala, dan tonfa itu menghantam kosong. Vaelzorr menembakkan dua rudal ke tempat Lynx berdiri, namun Lynx sudah menghilang dari titik itu. Largan menembakkan proyektil tekanan tinggi, namun hanya menghantam tanah dan menciptakan kawah besar. Grakkon meninju ke depan dengan kekuatan penghancur dinding kapal perang, tapi hanya menghantam bayangan. Dan Rhaegor, dengan seluruh berat dan kekuatan paduan logamnya, menebaskan lengan beratnya, namun Lynx muncul di atas bahunya dan menjejakkan kaki ringan.

Dalam sekejap, Lynx bergerak di antara mereka, dan

BRUAK!

